Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Senin, Juni 13, 2011

Tanggapan untuk Posting terakhir

KASUS 1
Dalam kasus ini, kita bisa menemukan 3 masalah moral yang utama.

Pertama, masalah keinginan keluarga (terutama ayahnya) untuk mencabut selang makanan yang membuat Tarno tetap bertahan hidup. Dalam moralitas, perbuatan ini sering disebut sebagai tindakan euthanasia. Euthanasia sendiri terdiri dari beberapa macam. Setidaknya ada 5 bentuk euthanasia: Euthanasia pasif (mis: dengan mencabut selang), euthanasia aktif (bisa dilakukan oleh dokter/orang lain, bisa juga dilakukan oleh pasien langsung), euthanasia tidak langsung (dg tindakan medik, tp tidak lgsg menyebabkan kematian), voluntary euthanasia (pasien sadar dan meminta sendiri) dan involuntary euthanasia (pasien sudah tidak sadar dan orang lain yang memutuskan).
Untuk kasus tindakan yang akan dibuat oleh keluarga terhadap Tarno termasuk kategori euthanasia pasif. Mengapa hanya pasif, apa pendasaran pokoknya? Pendasarannya adalah prinsip ordinary-extraordinary. Dalam prinsip ini, tindakan itu menjadi wajib hanya boleh dikenakan pada hal-hal yang biasa dan bisa dicapai oleh orang pada umumnya. Sedangkan hal-hal luar biasa yang pencapaiannya sulit tidaklah boleh dikenakan sebagai kewajiban umum kepada semua orang.
Nah, penggunaan selang makanan bagi penderita koma, yang biasanya hanya bisa kita temukan dalam ruang ICU, adalah termasuk kategori extraordinary. Penggunaan ruang ICU tidak bisa kita wajibkan kepada semua orang. Lalu, terkait dengan kasus Tarno, apakah dengan demikian pencabutan selang itu diperbolehkan? Jika, melihat sisi extraordinary-nya, itu tidaklah menjadi masalah. Para moralis dan kaum agamawan umumnya memandang cara ini (euthanasia pasif) tidak masalah. Sebab, dalam kondisi misalnya tidak ada ICU di suatu tempat tertentu, Tarno mungkin sudah tidak bisa bertahan selama 5 bulan. Penggunaan ICU membuat Tarno bertahan hidup lebih panjang. Jadi pelepasan selang mengembalikan kondisi Tarno pada situasi ordinary.
Tetapi, jika pelepasan selang itu semata-mata demi alasan ekonomi, tindakan itu tidaklah bijak. Artinya, value dari ekonomi kalah penting dari value dari kehidupan. Bagaimanapun juga kehidupan haruslah diperjuangkan. Toh, keluarga bisa meminta kepada pemerintah untuk membantu meringankan biayanya (ini adalah kewajiban negara untuk menyediakan Jamkesmas bagi warga yang kurang mampu).
Dalam Kitab suci, kita bisa belajar dari tokoh Ayub. Maka, pemecahan masalahnya bisa menggunakan kisah Ayub ini sebagai cerita inspiratif untuk keluarganya. Keluarga harus diajak tabah, tetap berpasrah pada Tuhan. Jangan hanya semata-mata demi alasan ekonomis saja.

Kedua, masalah penggusuran atas nama manfaat (banyak orang).
Cara ini seringkali dijadikan kampanye paling efektif dari pemerintah untuk melaksanakan rencana pembangunan dan sekaligus penertiban warga yang tinggal di wilayah pemerintahan mereka. Tetapi, bila kita lihat lebih seksama, asas manfaat ini tidak bisa dibenarkan. Meski bermanfaat bagi “banyak” orang, tetap saja ada orang yang dirugikan, meskipun itu hanya “segelintir”. “Segelintir” ini juga manusia lho, bukan mainan. Ingat, pernyataan Kayafas kepada orang Yahudi ketika Yesus akan dihukum, "Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa." Pernyataan ini hanya berlandaskan pada asas manfaat. Yesus dikorbankan demi kepentingan banyak orang.
Solusinya adalah meminta pemerintah dan warga mencari waktu dan tempat untuk musyawarah. Harus ditemukan titik temu yang win-win solution. Tidak boleh ada satu pun yang dirugikan. Di Indonesia sudah ada beberapa contohnya. Pemerintah kota Yogyakarta dan kota Solo termasuk dalam kategori pemerintah yang berjuang tidak sekedar seenaknya menggunakan asas manfaat. Meski ada penertiban, warga yang ditertibkan diberi ganti rugi yang seimbang dan malahan justru menguntungkan warga sendiri.

Ketiga, masalah bentrokan antara satpol PP dan warga. Bentrokan ini terjadi sebagai implikasi dari kebijakan penggusuran yang dibuat oleh pemerintah. Satpol PP dalam kasus ini seringkali tidak bisa langsung disalahkan. Mereka hanyalah alat dari pemerintahan. Mereka dibayar oleh pemerintah. Tokoh sentral dalam penggusuran ini adalah pemerintah. Penting di sini digarisbawahi soal prinsip keadilan. Dalam moral sosial, keadilan dan bonnum commune (kebaikan bersama) menjadi prinsip yang paling pokok. Ajaran sosial Gereja sudah banyak membicarakan hal ini. Bila menilik pokok permasalahan yang terpenting, pemerintah dan masyarakat harus saling bertemu. Bila di dalamnya ada kepentingan bisnis (pengusaha), maka kelompok ini juga harus ikut dalam pertemuan itu. Mufakat dan hasil yang berimbang dari 3 posisi sentral (pemerintah-rakyat-pengusaha) ini tentu harapannya.





KASUS 2
Dalam kasus ini, kita bisa menemukan 4 masalah moral yang utama:

Pertama, masalah aborsi. Aborsi adalah termasuk tindakan membunuh. Yang dibunuh adalah janin manusia yang masih di dalam rahim seorang perempuan. Dewasa ini ada kecenderungan antara pilihan pro-life atau pro-choice. Pro life adalah opsi untuk tetap mempertahankan kehidupan, meski dalam keadaan dilematis sekalipun. Sementara pro-choice, si ibu bisa memilih yang terbaik bagi hidupnya (hanya dalam kondisi medis yang harus mengorbankan janinnya).
Dalam kasus ini, permintaan Doni tidak ada sangkut pautnya dengan pro-choice (karena bukan persoalan medis). Doni meminta aborsi, karena kehadiran bayi itu tidak diinginkan.
Memang, dalam kasus ini tindakan aborsi itu sendiri belum terjadi. Tetapi, baru ‘niat’ saja sudah membuat tindakannya intrinsik jahat.
Aborsi tidak saja masuk dalam kategori membunuh biasa. Dalam Gereja katolik, pelaku aborsi (pelaku langsung maupun tidak langsung) dikenai sanksi eks-komunikasi. Dan rekonsiliasinya harus dipenuhi lewat pengakuan dosa secara khusus. Mengapa berefek demikian? Karena aborsi pada dasarnya sama saja dengan membunuh manusia yang masih belum bisa membela dirinya; di mana seharusnya kita menjaga dan merawat janin ini, aborsi justru melawannya. Di sinilah pokok kejahatan dari aborsi.

Kedua, masalah kehamilan di luar nikah. Perihal kehamilan di luar nikah, itu terkait dengan moral keluarga. Dalam weekend moral tempo hari kita sudah mendalaminya secara khusus. Problem pokok kehamilan di luar nikah adalah kesalahan dalam memaknai arti cinta. Cinta adalah anugerah dari Tuhan yang istimewa. Cinta yang lahir lewat pasangan mestilah dihidupi sebagaimana seperti cinta Tuhan kepada manusia.
Selain itu, Gereja juga menegaskan (seperti juga disebutkan dalam kitab suci) bahwa perkawinan itu adalah sakral. Perkawinan bukan sekedar hubungan intim suami-istri. Di dalam perkawinan, intrinsik hadir karya Tuhan.

Ketiga, masalah kontrasepsi. Meski masalah ini tidak terlalu nyata, tetapi permintaan Doni kepada Santi untuk meminum pil anti-hamil, berarti di dalamnya ada unsur anjuran penggunaan alat kontrasepsi. Supaya bahasan untuk masalah ini tidak terlalu rancu, penting diingat bahwa alat kontrasepsi bukanlah diperuntukkan bagi pasangan yang belum menikah. Secara moral alat itu hanya ‘boleh’ digunakan atau dipakai untuk orang yang sudah menikah. Lalu, jika syarat pernikahan sudah terpenuhi, barulah kita bicara bagaimana tanggapan gereja terhadap penggunaan kontrasepsi. Pada intinya, Gereja tidak memperkenankan pengaturan kelahiran dengan cara penggunaan alat-kontrasepsi, apalagi jika alat tersebut bersifat kontra-vita (sama saja dengan membunuh/aborsi). Yang gereja minta dari pasangan adalah pengaturan kelahiran secara alami (atau istilahnya KB Alami).

Keempat, masalah relasi berpacaran lewat facebook. Ada dua cabang masalah dari persoalan ini. Yang pertama soal bagaimana berelasi yang baik, dan yang kedua soal alat komunikasi (facebook).
Dalam membangun relasi yang baik, apalagi dalam rangka pacaran, haruslah dipergunakan sarana-sarana yang baik dan mendukung pula. Dalam tradisi gereja, masa pacaran adalah kesempatan bagi pasangan untuk sungguh mengenal pasangan, sehingga kelak siap masuk dalam jenjang pernikahan. Sifat perkawinan yang monogami dan tak terceraikan sungguh mengharapkan setiap pasangan siap sehidup-semati dengan pasangannya. Maka, pacaran menjadi kesempatan untuk sungguh mengenal satu sama lain. Sementara itu, kembali ke kasus kualitas relasi antara Santi dan Doni memang patut dipertanyakan.
Lalu, soal facebook. Dalam dirinya sendiri, facebook bersifat netral. Tetapi, di hadapan pengguna, facebook bisa menjadi dua sisi mata uang yang berbeda. Di satu sisi bisa memberi dampak positif, relasi menjadi lebih baik; tetapi bisa memberi dampak negatif, manakala di dalamnya dipenuhi unsur-unsur penipuan.






Solusi untuk masalah ini adalah merawat janin itu dan membiarkan lahir. Lalu meminta Doni bertanggungjawab dan meminta keduanya meningkatkan relasi sehingga berkualitas. Jika kemudian mesti menikah dini, kualitas relasi itu mesti dikondisikan. Bagaimanapun juga pernikahan dini terhitung cacat. Pernikahannya ada unsur ‘terpaksa’. Yang namanya ‘terpaksa’, di mana-mana seringkali berdampak buruk. Maka buatlah ‘keterpaksaan’ itu menjadi sikap pasrah. Pengalaman ini adalah kesempatan berahmat bagi mereka untuk memperbaiki diri. Dengan merawat janin itu dan menjalani hidup berkeluarga, rahmat itu pasti direngkuh dengan baik.


Catatan: bagian yang dicetak tebal adalah kata-kata kuncinya.

Read More...

Jumat, Mei 27, 2011

Titipan Untuk Gen. AX dan AY

Teman-teman yang terkasih dan tersayang, postingan kali ini adalah titipan buat teman-teman yang dikenal sebagai Generasi AX dan AY. Ini 2 kasus yang baik untuk kita pelajari bersama. Dua kasus ini adalah gabungan dari beberapa kejadian/kasus di kehidupan nyata. Semoga kita bisa belajar dari 2 kasus ini!

Kasus 1

Tragis sekali nasib Tarno. Dalam peristiwa bentrokan antara Satpol PP dan warga Penjaringan, Jakarta Utara, 5 bulan lalu, Tarno menjadi salah seorang korban dari pihak Satpol. Kondisinya sekarang masih dalam keadaan koma di RS Cipto Mangunkusumo. Keluarganya masih mencoba bersabar menanti kesembuhan Tarno, meskipun telah diusahakan pengobatan sedemikian rupa. Dalam peristiwa bentrokan 5 bulan lalu itu, Tarno dan teman-temannya mendapatkan perintah dari atasannya untuk menertibkan dan menggusur pemukiman di wilayah Penjaringan, karena di lahan itu akan segera dibangun Pembangkit Listrik. Bentrokan itu sendiri terjadi karena warga setempat masih menuntut hak mereka atas biaya ganti rugi. Tetapi pemerintah merasa sudah menjalankan kewajibannya, apalagi pemerintah punya alasan kuat, bahwa pembangunan pembangkit listrik ini akan bermanfaat bagi banyak orang. Pemerintah berasumsi para warga Penjaringan sewajarnyalah harus mau bekerjasama, karena ini demi kepentingan orang banyak. Sementara itu, terlepas dari persoalan bentrokan itu, ayah Tarno sudah pasrah dengan kondisi anaknya, bahkan ayahnya telah mengajukan permohonan kepada rumah sakit supaya mencabut selang saluran makanan tersebut dan merelakan anaknya pergi selamanya. Keluarga besar melihat sudah tidak ada harapan dan tanda-tanda kesembuhan dari diri Tarno. Apalagi keluarga sudah tidak sanggup lagi membiayai perawatannya.

Kasus 2

Santi mendapati dirinya mengandung. Doni, pacarnya marah habis-habisan karena sebulan yang lalu, pada waktu kejadian itu terjadi, Santi tidak mau minum pil anti-hamil, pil yang biasanya dipakai ibu-ibu bila ingin menjalankan program KB. Doni tidak mau bertanggungjawab atas kejadian ini dan menganjurkan Santi untuk menggugurkan kandungannya. Tapi, Santi takut akan tindakan itu. Sebaliknya, Doni juga menakut-nakuti Santi, sebabnya orangtua Santi kebetulan seorang kepala desa. Doni mengancam, jika Santi tidak mau menggugurkan, pasti keluarganya akan marah-marah, sebab itu menjadi sebuah aib buat keluarga. Belum lagi, masa depan Santi masih panjang, dan sekarang Santi juga baru kelas 1 SMA. Jauh sebelum permasalahan ini muncul, proses pacaran Santi dan Doni terbilang belum lama. Mereka baru berpacaran 3 bulan ini. Mulanya mereka bertemu lewat facebook. Lewat media itu, dan setelah bertukar sekian banyak message, Doni ujung-ujungnya mengajak “kopi darat”. Setelah perjumpaan itu, pertemuan mereka semakin sering. Doni tertarik dan memacari Santi, padahal selisih umur mereka lumayan jauh. Doni sendiri sekarang adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan yang sudah berumur 27 tahun.


Dari 2 kasus ini, cobalah pikirkan pertanyaan-pertanyaan kritis berikut ini:
  1. Sebutkan apa saja masalah moral yang ada di dalamnya!
  2. Tinjaulah masalah tersebut dengan bahasan teologi moral yang sudah kita dalami dan pelajari!
  3. Dan, berikan tanggapan kritis terhadapnya (ajaran kristiani, ajaran sosial, dsb.)!
  4. Jika memang perlu, buatlah solusi dan tujukan kepada siapa saja solusi tersebut harus diberikan?
Read More...

Rabu, Maret 23, 2011

Iman mengalahkan Kesombongan dan Dendam (Mrk 11:11-26)

Pada bagian pertama injil ini kita bisa melihat aspek kemanusiawian pada diri Yesus. Dalam perjalanan menuju Yerusalem, Yesus mendapatkan dirinya lapar. Dari jauh Ia melihat pohon ara, tetapi didapatinya pohon ara itu tidak berbuah. Yesus kesal karena tidak mendapatkan sesuatu yang bisa dimakan, lalu Ia mengutuk pohon tersebut.

Pada bagian berikutnya, Yesus juga menampakkan dirinya yang kesal dan marah. Di Bait Allah, Yesus mengusir para pedagang dengan segala barang jualan mereka. Tindakan ini lebih ganas daripada sekedar kutukan. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikan-Nya. Yesus marah dan mengatakan: “Bukankah ada tertulis Rumah-Ku disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun.”

Maaf, mungkin bagian yang terakhir ini agak sensitif, karena lagi hangat dibahas di milis internos soal misa imlek. Tetapi saya tidak ingin membahasnya juga. Selain memang bukan pada tempatnya, saya juga setuju dengan romo Heru, kesannya kog nganeh-nganehi.

Kembali ke Yesus. Kalau kesan nganeh-nganehi itu dikenakan pada Yesus, tampaknya koq Yesus memang juga nganeh-nganehi.
Di mana letak nganeh-nganehinya?
Pada bagian pertama, Yesus semestinya tahu bahwa pada waktu itu bukanlah musim buah ara. Sehingga tidaklah perlu sampai mengutuk pohon ara itu.
Demikianpun juga di Bait Allah. Yesus juga aneh. Dia tanpa ba-bi-bu, tanpa pakai permisi atau semacam teguran/peringatan dulu, tiba-tiba langsung melabrak para pedagang dan menghancurkan barang dagangan mereka.

Tetapi, mungkin dalam kacamata kita, tindakan Yesus itu nganeh-nganehi.
Di balik tindakan itu, Yesus hendak menyampaikan sesuatu.
Pohon ara dalam kitab suci sering dilambangkan sama seperti kebun anggur, yakni umat pilihan Allah. Yesus berharap umat Israel menghasilkan buah kasih sejati. Baik buah kasih sejati kepada Allah maupun buah kasih kepada sesama. Namun, kenyataan apa yang dihadapi-Nya? Israel maupun Bait Sucinya sama sekali tidak menghasilkan buah yang indah itu. Yang ada ialah kepura-puraan, fanatisme kurban, pemeliharaan hukum tanpa jiwa, dan kebohongan.

Soal musim buah ara yang belum tiba juga mengartikan bahwa misi Yesus belum tiba saatnya. Karya penebusan masih dalam prosesnya. Begitulah Markus hendak bercerita. Markus perlahan-lahan membuka misteri Kristus pada sidang pembaca.

Beberapa hari ini, seperti Anda ketahui, saya sedang dalam situasi susah. Operasi gigi di malam minggu yang lalu membuat gerak saya jadi agak terbatas. Gerak untuk makan, gerak untuk bicara, gerak untuk bepergian. Belum lagi beberapa teman menggoda, entah dengan mengajak untuk mentraktir atau diajak ke concat. Dengan kondisi gigi yang sakit ini, ajakan itu tentu saja akan mentah-mentah saya tolak, karena nganeh-nganehi atau tidak mungkin.
Lalu, pada sore kemarin, mungkin karena giginya masih agak sakit, saya juga jadi kesal; kesal pada komunitas, karena tradisi sport bersama sudah tidak jalan lagi. Meski mungkin tidak semua suka futsal, tetapi yang bisa futsal, yang ada saja sama sekali tidak punya keinginan untuk futsalan lagi.

Ya, suasana kesal hati saya hampir separalel dengan kekesalan hati Yesus. Sore kemarin setelah futsalan dengan anak-anak Loyola, saya punya rencana untuk menulis sesuatu di papan whiteboard di ruang rekreasi frater. Saya hendak menulis, “Quo vadis Sport?” besar-besar. Tapi tindakan itu tidak sampai dibuat.

Pada malam hari, sehabis makan malam, ketika hendak menyiapkan renungan untuk pagi ini, saya mendapatkan insight untuk bahan refleksi saya. Itu ada pada bagian akhir injil ini.

Di situ, Yesus menanggapi murid-murid-Nya dengan cara yang amat berbeda. Saya terkesan dengan tanggapan Yesus ini. Pada mulanya, murid-murid-Nya amat bangga kepada Yesus karena pohon ara yang dikutuk Yesus benar-benar kering.
Tetapi Yesus berpikir lain. Yesus tidak melihat itu sebagai sesuatu yang perlu disombong-sombongkan.
Bagi-Nya yang paling hebat bukan kemampuan mengeringkan pohon dalam waktu beberapa jam atau langsung, bukan juga mengusir para pedagang dari Bait Suci, melainkan iman. Iman memang diberikan oleh Tuhan. Tetapi, kalau manusia tidak mau menerima anugerah ini, Tuhan pun tak berdaya. Dan sebaliknya, kalau manusia mau beriman dan belajar untuk sungguh beriman, Tuhan tak mampu menolak doanya.
Untuk beriman dengan baik, manusia harus membebaskan dirinya dari segala sesuatu yang bernama: benci, dendam. Hanya manusia yang sungguh tulus mengampuni saudaranya, dapat disebut beriman. Sebab iman melandaskan dirinya pada sesuatu yang tak kelihatan, yang tak terjangkau secara fisik. Iman selalu mengandalkan Tuhan saja.
Oleh karena itulah, pada bagian akhir refleksi saya tadi malam, saya berpikir mungkin kalau saya terus merasa sakit hati karena tidak bisa futsal rame-rame dengan saudara se-komunitas, dan memaksa menuliskan pernyataan tadi di whiteboard komunitas; mungkin sakit gigi saya justru tidak akan sembuh-sembuh. Benar juga kata Meggy Z, “Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi saja.”
Dan benarlah kata Yesus, “jika kamu tidak mengampuni, maka Bapa-Mu yang di sorga juga tidak akan mengampuni.”
Begitulah maksud Yesus sebenarnya. Semoga permenungan injil hari ini membantu kita untuk semakin beriman dan percaya kepada Allah. Amin.
Read More...

Rabu, Januari 26, 2011

Hampir setahun tidak posting...

Kata ahli IT, era blogging hampir berlalu.
Untuk bisa eksis di dunia maya, tidak perlu sulit-sulit lagi buka blogspot ato wordpress. Sekarang, lewat twitter, orang dengan mudah menyampaikan statusnya terkini.
Semua begitu mudah, dengan hanya mengetikkan beberapa kalimat, seperti menulis sms, semua orang (follower) bisa membaca dan mengetahuinya, sekaligus bisa mengomentarinya.
Hukum pemampatan dalam komunikasi berlaku di sini. Orang lebih memilih untuk cara yang lebih cepat. "Kalau ada yang cepat, mengapa mesti mencari yang lambat?" Lebih cepat, lebih baik. Itulah slogan teori pemampatan komunikasi.
Soal ini memang tidak tertutup kemungkinan untuk diperdebatkan. Salah satu perdebatannya adalah soal logika pendek yang terlalu diagung-agungkan oleh orang-orang modern. Logika pendek inilah yang membuat segala sesuatunya menjadi instan. Tidak ada yang salah dengan mentalitas instan, tetapi tidaklah sedikit dampat negatif yang ditimbulkan dari mentalitas instan. Manusia semakin meninggalkan sebuah "proses". Padahal dalam "proses" selalu ada banyak pembalajaran. Di dalam "proses" orang dilatih untuk sabar, tekun, dan tak mudah patah semangat.
So, teman-teman, meski mungkin Anda sudah mulai beralih ke Twitter, cuap sana, cuap sini, janganlah lupa bahwa pergumulan hidup itu butuh "proses".
Read More...

Sabtu, April 24, 2010

Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa!

Sehabis peristiwa mukjizat roti untuk 5000 orang, Yesus dicari ke mana-mana. Gara-gara itu, setelah Yesus ditemukan kembali, Yesus menjawab secara mengejutkan, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.”

Kata-kata ini sungguh menusuk buat si pencari tentu saja. Karena apa yang dikatakan Yesus benar sekali. Bagi mereka yang paling penting adalah bisa makan dan bisa melanjutkan hidup. Makan untuk hidup. Tetapi, rumusan ini bisa dibalik. Hidup untuk makan. Beberapa hari yang lalu, di salah satu Koran harian dibahas soal nikmatnya wisata kuliner, sehingga kesannya hidup untuk makan saja. Tapi, ya karena memang maksudnya untuk promosi, maka mau tidak mau, si kulinerawan, seperti Pak Bondan, melakukannya ya karena dengan Hidup untuk makan itulah dia bisa mendapatkan uang.
Sewaktu acara Jubileum bruder Prapto, tepatnya pada saat makan siang, saya sempat berkomentar dengan salah seorang teman. Hebat… hebat… Jesuit itu kalau mengadakan sajian pesta, selalu pantas diacungi jempol. Tidak ada konvik lain yang bisa mengalahkan Jesuit soal jamuan makan. Apalagi kalau mau membandingkannya dengan ST. Di mana-mana, entah di Jakarta, di Semarang, di Yogyakarta, selalu memuaskan. Kurang enak sedikit, kurang tepat waktu penyajiannya pasti sudah banyak komentar muncul. Bicara rasa makanan enak-tidak enak, tampaknya Jesuit itu berpegang pada prinsip ini. Prinsip ini pernah saya dengar dari Romo Riyo sewaktu masih rektor Loyola, “de gustibus non est disputandum.” Setiap orang memiliki cita rasanya sendiri-sendiri. Maka, karena itulah setiap orang yang mendapat jatah seksi konsumsi pada acara Jesuit, haruslah benar-benar mengakomodasi prinsip ini.

Kembali ke soal Hidup untuk makan. Gara-gara mempersiapkan sharing pagi ini, tadi malam saya teringat dengan tulisan yang dibuat oleh bidel refter di papan pengumuman komunitas untuk mengingatkan kita bahwa kemarin sabtu, bambang ulangtahun. Kalau dipikir-pikir, saya merasa, tinggal di Kolsani itu begitu menyenangkan. Bagi saya sendiri, kalau saya tidak hati-hati, saya bisa jadi seperti apa yang saya katakana tadi. Hidup itu untuk makan. Karena, pagi-siang-sore makanan sudah tersedia, bahkan sesekali waktu, minimal sebulan sekali, bisa makan banyak dan menikmatinya dengan puas.

Tapi, Yesus melanjutkan kata-kata-Nya:
“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."
Lalu, bekerja yang bagaimana dan untuk makanan apa yang tidak dapat binasa ya? Pikir saya.
Seminggu yang lalu dalam sebuah chatting, saya sedikit syok dengan pernyataan salah seorang mantan murid saya di Loyola.
“Buat apa kami sekolah dan belajar selama 3 tahun, kalau nasib kami hanya ditentukan oleh 5 hari ujian? Mending kami di-drill 1 bulan saja, khusus untuk mempersiapkan ujian ini, sehingga kami bisa lulus!”
Menurut saya, anak ini sedang bergulat dengan pengalaman Ujian nasionalnya. Benar juga ya, buat apa mereka susah-susah belajar 3 tahun? Yang terpenting bagi mereka adalah mereka bisa lulus. Sementara, lulus-tidaknya hanya ditentukan oleh ujian yang dibuat selama 5 hari. Bagi mereka 3 tahun tidak ada gunanya, sia-sia dan membuang waktu hidup saja. Kalau bisa disiapkan dalam 1 bulan, mengapa harus menyiapkannya dalam 3 tahun.
Kadang-kadang, stresnya orang bekerja di kolese ya seperti ini. Sudah susah-susah diurus, anak orang lagi, selama 3 tahun, tanggapannya koq Cuma seperti ini. Di mana perjuangan selama 3 tahun, yang sudah mereka perjuangkan dan sudah ditawarkan oleh sekolah?
Maka, dulu sewaktu pelajaran agama atau pendalaman materi ignatian di kelas, saya selalu menekankan bahwa kita belajar itu untuk hidup. Non scholae sed vitae discimus. Ini kata-kata Seneca, sang filsuf Romawi, yang memperingatkan muridnya Lucilius. Studi di sekolah tidak semata-mata demi raihan nilai dan hasil yang sempurna dengan lulus ujian. Tetapi yang terpenting dari sekolah adalah untuk mengerti hal-hal yang akan dijalani dalam hidup. Oleh karena itulah, Loyola dan kolese-kolese lainnya menawarkan visi yang tertuang dalam 3C (comopetence, conscience, compassion). Kalau Cuma ujian 5 hari itu saja baru bagian competence. Lalu, saya jawab dalam chatting saya, “Meskipun kamu lulus UN, dan bagi anak Loyola, itu pasti (yakin), kamu bisa gak lulus hanya karena conscience dan compassionmu gagal. Sudah ada buktinya lho. Gara-gara nyontek, tidak lulus. Gara-gara menyepelekan dan menyerang guru atau pamongnya, belum kelulusan sudah dikeluarkan.”
Ngomong-ngomong soal belajar untuk hidup. Sambil bermain kata-kata, saya mau membaliknya, menjadi Hidup untuk belajar.
Mungkin inilah yang dimaksud Yesus dengan bekerja untuk makanan yang tidak dapat binasa. Bagi kita skolatik, yang teologan, Belajarlah bentuk kerja kita. Dan belajar itu adalah demi makanan yang tidak dapat binasa. Maka jadi Jesuit itu ya Hidup untuk belajar. Lagi-lagi, gara-gara kata ini, saya teringat dengan wawancara pada saat solisitasi saya 10 tahun yang lalu. Karena di hadapan pater magister, saya begitu gugup, tiba-tiba saya mengatakan bahwa Jesuit itu punya prinsip “Hidup untuk belajar”. Entah dari mana kata-kata ini keluar. Tapi, yang jelas saya tidak bisa memberi penjelasan yang meyakinkan kepada magister mengenai alasan pernyataaan saya tersebut. Kalau saya boleh kembali ke 10 tahun yang lalu. Ayat kitab suci ini akan saya kutip untuk menjelaskannya.

Dan yang terakhir dari teks hari ini:
Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.
Untuk penjelasan yang satu ini, kita kembali ke Bacaan pertama, di situ dikisahkan tentang Stefanus. Stefanus adalah orang yang percaya pada Yesus. Dia penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak (Kis 6:8). Nah, jika hidup kita sehat (terkait dengan soal makan tadi) dan hidup kita inspiratif (karena hasil belajar kita) kiranya kita juga dapat mengadakan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda di antara orang banyak di sekitar kita, sama seperti yang telah dilakukan oleh Stefanus. Dan mungkin teman-teman sekomunitas kita, tidak melihat kita sebagai beban, atau sebagai penghambat kerja komunitas, tetapi bisa melihat kita sama seperti melihat Stefanus. Oleh Mahkamah agama, seperti disebutkan dalam bacaan, muka Stefanus seperti muka seorang malaikat. Semoga itu terjadi juga di antara kita!
Read More...

Senin, Juli 13, 2009

KISAH KRISTUS dan PILPRES 2009: Presiden Terpilih Rakyat Berharap!!!

Jalan menuju Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, yang diselenggarakan pada tanggal 8 Juli 2009, berlangsung seru. Ada 3 pasangan capres dan cawapres yang bertarung. Ketiga pasangan tersebut sudah promosi diri, menawarkan program-program bakal pemerintahannya, bak seperti penjual obat menawarkan dagangannya di pasar malam. Sementara itu, tim sukses juga berharap calon pasangan yang diusung bisa gol menuju istana kepresidenan.

Di sisi lain, rakyat Indonesia, yang adalah pemilih dalam pemilu tersebut, seperti dibuat bingung. Ketiga pasangan tersebut selalu menawarkan program-program yang baik, yakni program yang selalu mengatasnamakan masyarakat. Kadang-kadang pemilu ini seperti menjadi semacam pertaruhan. Janji-janji calon yang diumbar selama kurang lebih 2 bulan adalah sebuah pertaruhan untuk bangsa Indonesia selama 5 tahun ke depan.
Setidaknya ada banyak penilaian dan isu yang muncul, yang bisa menjadi pertimbangan dalam memilih presiden dan wakil presiden kali ini. Pertama, persoalan ideologi. Dari ketiga pasangan ini, masyarakat sudah mulai bisa melihat ke arah mana negara ini akan dibawa dan dipimpin. Yang paling kentara adalah persoalan memilih antara nasionalisme atau pro-Islam. Selain itu, karena Indonesia adalah negara majemuk, dengan beragam suku dan latar belakang, persoalan daerah juga dikedepankan. Isu yang mencuat adalah soal Jawa-non jawa.
Kedua, persoalan kebijakan. Harapan besar dari masyarakat adalah pemerintahan yang benar-benar pro wong cilik. Siapapun orangnya, rakyat hanya akan memilih orang yang sungguh mau melihat keadaan rakyat dan mau memajukan bangsa. Meskipun bangsa ini sudah berumur 60 tahun lebih, pada kenyataannya masih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Tercatat dalam sebuah survey, pengangguran di Indonesia masih terbilang tinggi. Sekitar 30 juta rakyat, yang berada di usia kerja, sama sekali tidak bisa mendapatkan kehidupan yang layak, dengan pekerjaan yang sewajarnya.
Terlepas dari isu dan pertimbangan-pertimbangan di atas, lagi-lagi hal yang paling mendasar dalam pemilihan ini adalah pasangan mana yang paling cocok dan paling representatif dan mampu menjawab keinginan besar seluruh masyarakat Indonesia. Berbagai analisa dari para ahli, guna menanggapi ketiga pasangan ini sudah bermunculan. Setiap hari, kita bisa melihat lewat layar kaca, membaca lewat media massa, dan mendengar lewat radio, serta berdiskusi di warung pojok, membahas calon mana yang sungguh pas di hati rakyat. Ini sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Seperti mencari emas di hamparan pasir yang begitu luas.

Kadang-kadang, masyarakat sudah jenuh juga terhadap persoalan ini. Seperti lingkaran setan yang tak pernah usai. Harapan tinggal harapan. Persoalan selalu berulang dari masa ke masa. Presiden yang terpilih tidak selalu ada dalam hati rakyat. Lalu, daripada ribut soal pilpres, yang penting bagi mereka adalah bagaimana bisa mengisi ‘perut’ mereka hari ini.
Nah, setelah kita belajar dari tokoh dan peristiwa dalam sejarah kristianitas, kita diajak untuk mengkisahkan bagaimana Allah turun menjadi manusia dalam konteks ini. Apakah Allah masih relevan ketika masyarakat kita sedang bingung memilih sosok mana yang pas. Apakah bahasa iman yang kita pelajari sesuai dengan realita dalam masyarakat? Bagaimana kita menceritakan kisah Kristus dengan tepat dalam kondisi dan situasi pilpres kali ini?

Bahasa Iman berbicara apa?
Dalam peristiwa inkarnasi, seperti yang diungkapkan dalam Yoh 3:16, “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang dipercaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal,” di situ kita bisa melihat dengan jelas, bagaimana Allah berpihak dan terlibat dalam hidup manusia. Maka, kisah Kristus dalam pilpres kali ini terkait erat dengan pemimpin mana yang sungguh(!) mau berpihak dan terlibat.
Pembelajaran lewat tokoh Maximus Confessor, menawarkan kepada kita sebuah pertimbangan dalam memilih pasangan capres-cawapres mana yang baik. Prinsipnya, jangan membawa iman ke dalam politik. Jangan menggunakan iman demi kepentingan politik. Maka dari itu, pertimbangan tentang sosok yang nasionalis adalah pertimbangan yang masuk akal. Apalagi bangsa kita adalah bangsa yang begitu majemuk, yang berasal dari beragam agama.
Sementara itu, Agustinus, dalam “de civitate Dei” berharap agar pemimpin itu adalah pemimpin yang realistis, yang belajar dari pengalaman. Hidup bernegara adalah “hiduplah sebaik mungkin.” Menjadi pemimipin adalah menjadi pribadi yang tahu berbuat apa bagi rakyatnya. Meskipun punya pengalaman masa lalu yang buruk, dia bisa belajar dari situ, dan mampu bertransformasi di masa yang akan datang, yakni membawa kebaikan bagi seluruh rakyat.
Anselmus menegaskan sekali lagi bahwa harus ada pemisahan yang tegas antara iman dan negara. Iman dan politik adalah dua hal yang terpisah. Oleh karena itu, pilihan yang tepat adalah pasangan yang menawarkan kehidupan yang benar-benar fokus pada kehidupan itu sendiri, bukan memindahkan ‘agama’ ke dalam kehidupan bernegara.
Bagi Thomas Aquinas, kebenaran itu adalah kerinduan setiap orang. Berdasarkan hal ini, program-program yang sungguh menawarkan ditegakkannya kebenaran akan menjadi opsi yang tepat bagi pemilih. Konsep ‘kebenaran’ di sini mesti tegas! Mengapa? Kita lihat sendiri, bahwa di Indonesia betapa mudahnya kebenaran diputarbalikkan. Yang korupsi, yang jelas-jelas merugikan masyarakat banyak malah bebas berkeliaran, sedangkan yang cuma mencuri ayam malah dibakar massa. Dunia seperti dibolak-balik.
Kebenaran itu selayaknya didasarkan pula pada dasar negara kita, yakni Pancasila dan UUD 1945. Sama seperti yang dibuat oleh Martin Luther. Dia mengajak kita ke prinsip ‘back to basic’ (sola scriptura). Sementara itu, Konsili Trente juga menekankan hal yang sama, tetapi juga menambahkan peran yang lain, yakni tradisi dalam kehidupan manusia. Dalam konteks Indonesia, tradisi itu konkret dalam bentuk tradisi penafsiran baru (menurut situasi dan konteks zaman) atas undang-undang (misalnya amandemen UUD 1945), tanpa harus mengubah dasar negara, yang telah dicita-citakan dan dibangun oleh para founding fathers bangsa ini.
Cita-cita dan semangat pendiri negara ini adalah cita-cita yang mesti pula diteruskan oleh calon-calon pemimpin baru negara ini. Oleh karena itu, pemimpin yang diharapkan adalah pemimpin yang omongannya bisa dipercaya oleh rakyat, berbicara tegas(!) dan mampu menjawab keinginan konkret masyarakat. Konsili Vatikan I menegaskan hal itu (seperti dalam perumusan infalibilitas paus). Tetapi, pemimpin itu pun harus mawas diri. Tindakan otoriter dan sikap reaktif adalah tindakan yang paling rawan bisa dibuat oleh seorang pemimpin (kritik terhadap infalibilitas paus).
Newman menawarkan sebuah alternatif lain. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang punya pengalaman dengan rakyat dan mau berkembang bersama rakyat. Dan juga melandaskan alur gerak kepemimpinannya pada peranan suarahati. “Jika melawan suarahati, itu berarti bagaikan membunuh wewenang sendiri.” Maka dari itu, pemimpin haruslah melibatkan rakyat seluruhnya, bukan hanya melibatkan orang yang punya ‘duit’ saja.
Bonhoeffer menegaskan soal keterlibatan yang sungguh. Menjadi pemimpin adalah memberikan dirinya. Seperti martir, dia ‘berbuat sesuatu’ untuk kehidupan. Pemimpin harus berani melakukan sesuatu di saat-saat sulit, meskipun itu taruhannya adalah nyawa. Yang paling pokok adalah menghindari yang jahat demi kebaikan banyak orang.
Lewat Konsili Vatican II, prinsip aggiornamento menjadi penting. Bertindak sebagai pemimpin adalah bertindak sebagai pribadi yang mau terbuka terhadap siapapun, bisa menjadi fasilitator bagi seluruh rakyat, bukan hanya untuk kepentingan beberapa kelompok saja.
Dan yang terakhir, Tissa Balasuriya. Kontekstual! Bahasa pemimpin adalah bahasa yang hidup dalam rakyat. Maka dari itu, pemimpin haruslah bisa membaca situasi dan konteks Indonesia secara keseluruhan.

Penutup
Melalui butir-butir di atas, bahasa iman kita tampak menjadi begitu aktual, mampu menjawab kebutuhan orang beriman, di sini dan saat ini. Pun juga inspiratif, karena mau melibatkan semakin banyak orang dalam sejarah keberlangsungan manusia. Dengan pembahasan tentang pilpres 2009 tadi, kita sebagai orang beriman jelas-jelas diajak untuk terlibat, sebagaimana Yesus, 2000 tahun yang lalu, yang sungguh terlibat dalam hidup manusia!***
Read More...

Rabu, Juni 10, 2009

IMAN TIDAK PERNAH DARI ANGKA NOL!


Manusia dan dunia adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Manusia hidup di dunia dan dunia menghidupi manusia. Seperti dua sisi pada keping mata uang, dunia yang bergerak dan menyejarah terus memberikan latar dan pengaruh pada kehidupan manusia, dan sebaliknya, manusia jugalah yang secara otonom membentuk dan mengukir dunia seluas hidupnya.

Dalam peziarahannya di dunia, manusia tidak jarang berhenti pada suatu titik, di mana dia bertanya-tanya di dalam batin, mencoba mencari jawaban, siapa sebenarnya ‘sang aktor’ di balik peristiwa kehidupannya? Meski manusia yakin bahwa tindakan yang dilakukannya dari detik ke detik adalah opsi fundamental-nya, tetapi seringkali dalam situasi tertentu, manusia menjadi seperti tertahan, tidak bisa berbuat apa-apa. Dan tepat pada saat itu, manusia merasakan ada ‘sesuatu’ di luar dirinya yang ikut terlibat dalam peristiwa itu. Itulah proses pengenalan manusia akan ‘Yang Transenden’.
Siapakah ‘Yang Transenden’ itu? Manusia terus mencoba mencari jawab. Penggalan-penggalan sejarah telah banyak bercerita bahwa manusia tidak pernah berhenti menginterpretasikan siapa ‘Yang Transenden’ itu. Proses pengenalan itu tak akan pernah berhenti dan mengalir terus sepanjang hidup manusia.
Secara sederhana, itulah yang disebut dengan iman. Iman selalu berdinamika di antara pribadi manusia dan ‘Yang Transenden’, serta ketersediaannya selalu berangkat dari konteks dunia yang menghidupinya.

Pokok-pokok pembinaan iman zaman ini
Bila mendiskusikan pokok-pokok apa saja yang menjadi perhatian dalam membina iman, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah aspek pribadi manusia yang mengalami iman itu sendiri. Iman itu relasi personal, yakni pengalaman pribadi manusia itu sendiri. Masing-masing orang punya pengalaman iman yang berbeda dan unik. Pengalaman itu terjadi lewat cara-cara yang identik dengan orang yang mengalaminya, sehingga orang lain tidak bisa dengan mudah memahaminya.
Dalam kesadaran iman yang unik itu, setiap pribadi bergulat dalam dirinya: bagaimana ‘Yang Transenden’ itu sungguh-sungguh disadari. Maka, refleksi atas pengalaman atau pemaknaan atas hidup menjadi sangat penting, sebab di situ manusia menjadi sadar bahwa hidup itu bukan miliknya sendiri. Ada campur tangan dari Sang Pribadi ‘Yang Transenden’. Pribadi itulah yang dikenal oleh manusia sebagai Allah. Dan dengan kesadaran itu pula, lewat seluruh hidupnya tampak ditunjukkan keterlibatan Allah. Sementara itu, refleksi keberimanan tadi diperoleh dengan melibatkan seluruh afeksi/rasa dan kognisi serta aksi dari manusia itu sendiri.
Hal kedua yang menjadi pokok perhatian adalah konteks dan lingkungan-budaya yang melingkupi pribadi manusia itu. Seorang beriman tidak pernah lepas dari konteks, apalagi bila konteks itu adalah hidup bersama orang lain, yang notabene adalah orang yang sangat beragam, apalagi masing-masing orang tersebut mempunyai pengalaman keberimanan yang khas dan unik juga. Konteks ini juga mencakup dunia/zaman macam apa yang ditinggali oleh manusia tersebut.
Hal ketiga adalah kesadaran bahwa keberimanan itu bukanlah tindakan sekali jadi. Keberimanan adalah sebuah proses hidup, yang dimulai sejak pribadi itu terlahir ke dunia, dan selesai pada waktu kehidupan itu dicabut dari dirinya. Dengan kata lain, pencarian akan Allah atau keberimanan terhadap Allah ‘Yang Transenden’ itu terus diperjuangkan sampai sukma terenggut dari tubuh. Namun, dalam proses keberimanan tersebut, bukan berarti manusia tidak pernah punya pilihan pasti. Dalam setiap titik-titik hidup yang dilaluinya, manusia menentukan opsi fundamental-nya. Dalam opsi itulah, dia bergulat dalam hidupnya, dan itu tiada kata akhir, sampai semuanya benar-benar paripurna di akhir hidupnya.
Hal keempat adalah Pribadi ‘Yang Transenden’, yakni Allah sendiri. Dalam proses keberimanan manusia, Allah ikut terlibat dan ambil bagian di dalamnya. Keterlibatan-Nya pun unik sebab bergantung kepada masing-masing manusia dalam berprosesnya.

Pengertian dasar yang memberi arah pembinaan iman
Setelah memahami pokok-pokok iman di atas, selanjutnya perlu adanya pengertian dasar guna memberi arah bagi pembinaan iman tersebut. Pada dasarnya, kehidupan manusia itu tak pernah berdiri sendiri. Pengalaman akan ‘Yang Transenden’ selalu muncul dalam benak kehidupan manusia. Proses keberimanan itu bisa dianalogikan seperti orang berjalan menyusuri sungai. Sementara, ‘Yang Transenden’ itu, yang kita kenal sebagai Allah, persis berada di seberang sungai, yang juga sama-sama menyusur. Sesekali, kedua sisi sungai itu bertemu. Titik pertemuan itu adalah sebuah jembatan. Lewat jembatan itulah, manusia dan Allah menjadi saling terhubung. Tetapi, setiap kali Allah dan manusia juga akan selalu bertemu, sebab indera (mata) tak menghalangi penglihatan dan oleh karenanya, manusia menjadi yakin bahwa di seberang Allah juga terlibat dalam dan aktif dalam ‘permainan’ hidupnya.
Selain daripada itu, tidak jarang pula terdapat banyak hal yang bisa menghalangi keterhubungan itu, entah itu terjadi karena jarak sisi sungai yang semakin melebar, entah karena ada benda asing yang seketika itu lewat di tengah sungai, sehingga pandangan langsung menjadi terhalang. Atau bisa juga selama perjalanan menyusur sungai, tak satupun jembatan yang bisa ditemui.
Tapi itu bukanlah hal yang pokok. Sebab keberimanan itu seperti sebuah permainan. Di dalamnya, manusia diajak untuk terlibat. Allah pun melakukan hal yang sama. Di sini tidak tertutup kemungkinan ada proses tarik-ulur, antara Allah dan manusia. Dengan demikian, yang pokok dalam permainan itu adalah manusia tidak pernah berhenti dalam pencariannya, tidak pernah berhenti menyusuri sungai.
Di samping itu, di dalam ‘permainan’, manusia juga benar-benar diuji. Allah sebagai pihak yang lain, juga memainkan peran-Nya, meskipun Allah kerapkali membuat banyak gerakan-gerakan (=rahmat) yang tak terduga. Ketakterdugaan ini juga menunjuk pada situasi di mana, seringkali manusia menemui ‘jalan buntu’ di dalam hidupnya, yakni situasi di mana manusia ‘merasa’ ditinggalkan oleh Allah (misalnya dalam menjawab masalah penderitaan). Itulah misteri permainan itu. Manusia tidak tahu apa yang dibuat Allah, tapi manusia yakin bahwa Allah tetap terus bermain. Oleh karena itu, yang terpenting dari sisi manusia adalah sungguh-sungguh bermain, dan terus bermain sampai akhir hidup.
Lewat permainan itulah, manusia bertanggungjawab atas hidupnya, dan dengan demikian menunjukkan bahwa iman bukan berarti ‘aku manut’, tetapi mau berubah dari hari ke hari.

Kristus dalam pembinaan itu
Proses keberimanan manusia menandakan adanya sejarah iman. Bagi orang kristen, sejarah iman itu belum penuh. Sebab kepenuhannya ada dalam diri Yesus Kristus. Oleh karena itu, keberimanan orang kristen berfokus dalam pribadi Kristus.
Kristus adalah komunikasi Allah. Kristus menjadi cara sekaligus menjadi model dalam keberimanan orang kristen. Dengan keterlibatan Kristus dalam hidup, kita akhirnya diundang masuk ke dalam pusaran arus Allah.
Kristus menjadi cara keberimanan kita, dan oleh karenanya, hidup Yesus menjadi semacam model dalam keberimanan kita. Yesus adalah juga manusia yang ikut ambil bagian dalam permainan bersama Allah. Dalam permainan itu, Yesus bergulat dan secara kontiniu berproses mencari dan menangkap Allah. Bahkan sampai wafat-Nya di kayu salib, pencarian itu tak pernah ada kata akhir. “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46)
Selain itu, meski Yesus adalah komunikasi Allah sendiri —atau dengan kata lain Yesus adalah Wahyu—, selama hidup-Nya Yesus sama seperti manusia, menjadi pendengar Sabda Allah sendiri. Sikap-Nya inilah yang membuat-Nya hidup dalam masterplan Allah. Itu berarti pula bahwa Yesus selalu membuka diri-Nya pada rahmat (=permainan) yang dibuat Allah.

Lalu, apakah hidup dan doa kita mulai dengan nol?
Setelah melihat bagaimana proses keberimanan manusia, pada bagian ini, kami hendak menanggapi pengalaman iman yang unik, yang dialami oleh Andre Sulistyo (yang dimuat di majalah Utusan, edisi Agustus 2008)
Pada dasarnya, posisi/titik hidup yang dialami Andre tidak bisa dikatakan harus mulai lagi dari angka nol. Iman itu adalah proses. Pada titik yang dianggap nol oleh Andre itu justru adalah titik lanjutan, bukanlah titik awal. Sedangkan, menurut kami, angka nol haruslah selalu menunjuk pada mulainya hidup seorang manusia. Posisi angka nol menjadi tepat/benar, jika itu menunjuk pada mulainya kehidupan manusia di dunia, yakni ketika dia dilahirkan. Sementara, hidup yang sedang berjalan, apakah dia dalam krisis beriman atau tidak, tak pernahlah dimulai lagi dari angka nol.
Sejak manusia terlahir sampai akhir hidupnya, manusia bergulat dalam imannya. Keadaan sebagai seorang fatalis, tidak berarti dia tidak beriman. Justru di situlah, imannya sedang diuji. Titik nol yang disebut Andre justru bisa dikatakan sebagai ‘puncak hidup’-nya, karena dia sungguh menyerahkan seluruh hidupnya (bdk. Pengalaman St. Yohanes dari salib). Dalam ‘titik nol’ itulah, Allah mewahyukan dirinya, Allah menunjukkan gerakan-gerakan dalam permainan-Nya.
Mesti diakui bahwa anggapan Andre Sulistyo itu merupakan gejala umum yang kerap dialami manusia zaman sekarang, yang melihat hidup itu sebatas keberhasilan. Sehingga, sah-sah saja jika Andre menganggap dirinya mesti memulai lagi dari angka nol. Padahal di samping keberhasilan, hidup itu juga termasuk penderitaan. Itu tampak dari ungkapan ‘keberimanan’-nya. Ada perbedaan tipis antara penyerahan diri dan keputusasaan. “Kalau hari ini Tuhan mau ambil nyawaku, ya silakan!” Maka dari itu, hidup itu tidak bergantung pada iman kita saja. Dalam permainan itu, kita juga bergantung pada Allah yang cuma-cuma memberikan rahmat-Nya.***
Read More...

Rabu, Juni 03, 2009

"Let's bear The FRUIT!"


God has a purpose for our lives and what is that purpose very simply, it is to bear FRUIT.
If we bear fruit, we are of value to him. God the Father is the vinedresser, and his sole desire is that the branches of the vine might bear fruit, that is how he evaluates them.
Notice what He does.
"I am the true vine and my Father is the vinedresser. He cuts off every branch that does not bear fruit."
In grape vines, 90 - 95% of them is pruning off worthless branches. The reason is, on grape vines, grapes only happen on new growth. Those old branches might look wonderful and leafy but the simple truth is that they will not bear any fruit. So God cuts them off and tosses out all that old stuff so that the new vine branches might be fruit bearing ones. The simple truth is that old branches on a vine take up its nutrients so that new vine branches will only produce poor fruit. That is why old branches are cut off.
This first part that the vinedresser does is the painful to us because he is talking about us as individuals. This passages forces us to ask ourselves: Are we fulfilling God's function for our lives? Are we bearing fruit that will last? Or are we pieces that need to be cut off because we are fruitless?
Before we ask that question further, let me point out something else that the vinedresser does. If he sees a branch bearing fruit, maybe not a lot, but a little, you know what he does to it - this time he does not cut it off, rather he cuts it way down to size.
"Every branch in me that bears no fruit he cuts away, and every branch that does bear fruit he prunes to make it bear even more."
The whole reason behind pruning is FRUIT - not just a little, but a lot of fruit.
"It is the Glory of my Father, that you should bear much fruit, and then you will be my disciples."
Pruning is also done for the purpose of strength. Some long branches couldn't bear any fruit because simply they are not strong enough. Therefore the vinedresser cuts branches short so that when the fruit comes, it will be strong
So the question asks us: Are we BEARING FRUIT? And then: What does it mean to bear fruit?

Let me describe.
1. Fruit never exists for itself. Fruit is designed for others. However you might choose to define fruit - the first and most basic question is this - are you living to serve yourself or are you living to serve God and others?
2. Good fruit is food! This is true of spiritual fruit also, it is for other people to enjoy and grow by, it blesses others, it nurtures them.
3. Good fruit is reproducable - it has the potential when falling onto good soil to reproduce again the same fruit as the original vine. The faith of the ours ought to become the faith of those around us. If not, we will be burned.
This has many applications for our lives. It is very practical. We always live in a time when we are making choices. And so often we make those choices based on abilities, interest, and so on. But how about the question of having a choice in which we intentionally bear fruit for God? How does fruit bearing fit into our plans? How are we going to be living our life for others? How is our life in Christ going to be reproduced in others?
The last question, if we want to bear fruit is - "What is the key to bearing fruit?"
The answer is the wonderful part of this passage. The key to bearing fruit is not in our doing so much, not in our work or activities, the key to the function of bearing fruit is in our RELATIONSHIP with Christ.
"Make your home in me, as I make mine in you. As a branch cannot bear fruit all by itself, but must remain part of the vine, neither can you unless you remain in me. I am the vine, you are the branches. Whoever remains in me, with me in him, bears fruit in plenty; for cut off from me you can do nothing."
Amen.
Read More...

Sabtu, Maret 14, 2009

Spiritualitas Supir

Setelah seorang Pastor meninggal dan masuk ke surga, ia melihat bahwa seorang supir bis mendapat tempat yang lebih mulia darinya.
"Aku tidak mengerti," keluh sang Pastor pada Petrus. "Aku mengabdikan seluruh hidupku untuk umatku. Mengapa supir itu lebih tinggi dari diriku?"
Jawab Petrus, “Kebijakan kami di sini adalah tergantung dari hasilnya! Apakah umatmu memperhatikanmu saat kamu memberikan khotbah?"
"Ya ...," Pastor itu mengakui, "beberapa umat selalu tertidur saat aku berkhotbah."
"Itu dia masalahnya," kata Petrus, "kamu tahu, saat orang naik bis yang dikemudikan supir itu, mereka tidak hanya terus terjaga, mereka bahkan terus berdoa."


Cerita itu terdengar lucu dan sekaligus menghentak, karena ada benarnya juga.
Sudah sekian waktu, kira-kira sejak 3 tahun yang lalu, aku mulai dipercaya sebagai supir untuk keperluan komunitas.
Menjadi supir merupakan salah satu pekerjaan yang tidak diinginkan. Menjadi supir hampir sama seperti menjadi satpam maupun menjadi cleaning service. Pekerjaan-pekerjaan ini lebih banyak menggunakan fisik, daripada menggunakan otak. Bahkan dalam struktur jabatan, mereka ini termasuk pekerja kelas bawahan.

Suatu kali aku pernah menawarkan diri dalam sebuah acara besar, untuk menjadi supir, melayani tamu-tamu, dan menghantarkan mereka ke beberapa tempat tujuan. Beberapa dari orang yang mendengarkan tawaranku ini tersenyum sinis. Mereka memandang pekerjaan ini dengan sebelah mata. Kesannya hanya sepele.
Tetapi, aku merasa, dalam banyak hal, peran supir sangatlah menentukan. Meskipun kesannya sepele, berkat supir, banyak kegiatan bisa berjalan dengan baik. Coba bayangkan jika dalam suatu keperluan yang begitu mendesak! Kebetulan ada mobil, tetapi tidak ada yang bisa nyupir. Padahal jika ada supir, masalah yang mendesak itu bisa diselesaikan dengan baik.
Terlepas dari pentingnya peran supir, aku merasa supirpun menghantar banyak orang pada gerak spiritualitasnya. Mengapa? Seperti yang sudah disebutkan dalam ilustrasi cerita di atas. Selama supir menjalankan tugasnya, para penumpang selalu mendukung dengan doa-doa. Semoga perjalanan yang dilalui dapat berjalan lancar dan tanpa ada aral yang melintang. Suasana berkendaraan menjadi sangat kondusif, karena antara penumpang terjadi komunikasi rohani yang begitu indah. Kadang-kadang hal ini tidak kita sadari, tetapi justru di sinilah kekuatan rohani itu berjalan dengan apa adanya.

Aku sendiri, bila diminta sebagai supir, selalu saja dalam perjalanan, ketika menjalankan tugas, dalam hati mengucapkan doa. Aku merasa, kemampuan menyupir bukanlah kemampuan yang mutlak, karena segala perjalanan juga tergantung pada penyertaan Tuhan sendiri.
Bahkan, salah satu terapiku agar aku tidak ngantuk dalam menyupir, adalah dengan berdoa. Biasanya dengan berkomat-kamit sendiri. Meskipun agak aneh, justru dengan cara begini, aku terus bisa terjaga. Salah satu obat agar tidak ngantuk adalah ngomong. Syukur-syukur ada teman ngobrol. Lha, kalo penumpangnya tidur semua, lalu ngobrol sama siapa? Ya, ngobrol sama Tuhan saja. Betul khan!

Kesediaan menjadi supir berarti juga siap sedia untuk melayani. Tidak jarang aku menjumpai, orang-orang besar malahan mau menyupir. Dulu, sewaktu masih tinggal di Semarang, Romo Rektorku malah seringkali menyupiri mobil kami. Sebuah kerendahanhati yang besar. Di sini jelas tampak sekali sikap melayaninya.

Maka dari itu, mengapa mesti malu menjadi supir? Justru, meskipun hanya menjadi supir, ternyata dari situ bisa digali banyak pengalaman rohani.
Read More...

Selasa, Februari 03, 2009

Learn from the Life of the Martyrs

On May 29th, 1977, Oscar Romero wrote this:
Persecution is necessary in the church. Do you know why? Because the truth is always persecuted. Jesus said, “If they persecute me, they will also persecute you” (John 15:20). And because of this, when one day people asked Pope Leo XIII, that incredibly intelligent man of the beginning of our century, what is it that sets apart the true Catholic Church, the pope said the four qualities that are already known: one, holy, catholic and apostolic. The pope said to them, “Let’s add another: persecuted.” The church that lives up to its duty cannot exist without being persecuted.

Today we celebrate some Jesuit martyrs. John de Britto is one of them. As a martyr, de Britto was also persecuted in his life.
Father de Brito worked in India. The place is called as Madura, in the regions of Kolei and Tattuvanchery. When he studied the India caste system, he discovered that most Christians belonged to the lowest and most despised caste. He thought that members of the higher caste would also have to be converted for Christianity to have a future. He became an Indian ascetic, a pandaraswami since they were permitted to approach individuals of all castes. He changed his life style, eating just a bit of rice each day and sleeping on a mat, dressing in a red cloak and turban. He established a small retreat in the wilderness and was in time accepted as a pandaraswami. As he became well-known, the number of conversions greatly increased.
He was made superior in Madura after 11 years on the mission, but he also became the object of hostility from Brahmans, members of the highest caste, who resented his work and wanted to kill him. He and some catechists were captured by soldiers in 1686 and bound in heavy chains. When the soldiers threatened to kill the Jesuit, he simply offered his neck, but they did not act. After spending a month in prison, the Jesuit captive was released. When he got back to Madura, he was appointed to return to Portugal to report on the status of the mission in India. When he reached Lisbon ten months later, he was received like a hero. He toured the universities and colleges describing the adventurous life of an Indian missionary. His boyhood friend and now-king, Peter II noticed how thin, worn and tired his friend looked; he asked him to remain at home to tutor his two sons, but de Brito placed the needs in India above the comfort of the Portuguese court.

De Brito sailed again to Goa and returned to the mission in Madura when he arrived in November 1690. He came back despite a death threat that the raja of Marava had made four years earlier. The Jesuit missionary travelled at night from station to station so he could celebrate Mass and baptize converts.

His success in converting Prince Tadaya Theva indirectly led to his death. The prince was interested in Christianity even before the prayers of a catechist helped him recover from a serious interest. De Brito insisted that the prince could keep only one of his several wives after his baptism; he agreed to this condition, but one of the rejected wives complained to her uncle, the raja of Marava who sent soldiers to arrest the missionary on January 28, 1690. Twenty days later the raja exiled de Brito to Oriyur, a neighboring province his brother governed. The raja instructed his brother to execute the troublesome Jesuit who was taken from prison on February 4 and led to a knoll overlooking a river where an executioner decapitated him with a schimitar."
And now, what is the values of the life of the martyrs?
For us, the life of the martyrs explain how they bear their cross in their lives.

We know, Everybody has their cross? Is it heavy or not, but all are cross?
I often heard from many people about their life, their struggle, or their cross.
One day, A woman shared to me about her experience’s life.
She was a single parent. Her husband died when her oldest children stay in elementary school and her youngest children was two years old. She had 6 children. Since Her husband died, she began work.
Everyday she had to raise money for her family. She had to give the school fee for her children.
We can imagine how heavy her life. Even now, she still in difficult situation, although all her children have got marriage and have family.
All her life full of heavy cross. But, in that situation, that woman still happy.

But, another story, I have friend who don’t has a heavy burden.
He always has happy life. He had not to raise money. His parents is rich.
Does he has a cross?
I don’t know, may be he had small cross.

How about you?
Are You like that woman or my friend?
We have our own cross? Is it heavy or not, each one have their cross!
But, sometimes we try run away from our cross. Even, if allowed, we ask to God for small cross.

In my reflection, we can’t run away from our cross. We can’t ask for small cross.
Cross is God’s graces.
Cross is in our daily life. And Cross is not hidden outside ourself.
But remember, Cross is not happened because our mistakes.
As Christian we all have cross.

I have ilustration
Suppose someone gave you a dish of sand mixed with tiny iron filings.
You comb your fingers through the sand, but you don’t see any filings.
Then you take a small magnet and comb it through the sand.
Suddenly it is covered with filings.

Our cross is like a dish of sand. And God’s graces are like tiny iron filings.
So, when we combed with magnet and find the God’s graces, we can happy like woman in the beginning my sharing this morning.

On the other hand, Ungrateful people are like your fingers combing the sand.
They combed the “sands of life” with their fingers and found nothing for which to take up the cross.
Amen.

Read More...

Senin, September 15, 2008

Dunia yang Keras: Inilah Duniaku


Kali ini mataku dibuka lebih lebar lagi. Serikat mengutusku untuk semakin mengenal duniaku (mengalami dan melatih diri). Probasi ini telah berkata lain dibandingkan 2 probasi luar yang terdahulu. Dunia memang terus berjalan bahkan berlari dan berpacu, tetapi aku tidak melihatnya dari sisi keindahan, ketenangan, kenyamannya, seperti yang kualami sebelumnya. Sekalipun Perigrinasi telah menunjukkan dari sisi lain, namun baru saat ini aku merasakan pengenalan yang lengkap akan duniaku. Aku tidak berani menyatakan bahwa aku sudah ahli tentang dunia ini, lebih daripada aku berani menyatakan bahwa inilah duniaku (di mana aku hidup di dalamnya), inilah realita di hadapanku.

Aku diutus ke tengah-tengah serigala, di antara kehidupan keras para buruh bangunan. Aku tidak ingin terilusi oleh istilah “Ibu Tiri tidak sekejam Ibukota”, tapi aku ingin sungguh mengalami bagian dunia lain yang dipandang dari sisi ketidakamanannya.
Selepas dari Kanisius, dengan bekal kehendak kuat, bersama teman perutusanku, kupanggul tas besar di pundakku. Aku tahu bahwa di terminal Senen banyak copetnya, tapi mau bagaimana? Ini duniaku dan aku mesti melewatinya agar aku sampai tujuanku.
Kutatap wajah anak kecil, yang mencoba bernyanyi dengan suara parau dan hanya mengandalkan bebunyian dari kumpulan tutup botol. Kasihan sekali! Aku hanya diam, tak memberikan uang sepeserpun, kecuali berpikir bahwa mereka sebenarnya hanya diperalat oleh sekelompok orang. Dan, aku merinding melihat eks-napi mabuk naik ke bis yang hanya untuk menodong (dengan cara halus). Aku tak bisa berlagak seperti Superboy, yang menyelamatkan orang-orang dan meninju mereka keluar bis, kecuali aku semakin yakin bahwa inilah duniaku.
Turun dari bis, di kanan-kiri jalan, masih ada banyak genangan air, sisa dari banjir kemarin. Bermaksud ingin menyeberangi sungai, ternyata jembatannya terendam. Setelah berputar cukup jauh, mencari jembatan yang lebih tinggi, masih juga harus menggulung celana ke atas, agar bisa melewatinya dan melintasi jalan-jalan di perumahan Kelapa Gading yang juga masih terendam air. Di mana-mana air, lalu semua ini salah siapa? Tuhan tidak bisa disalahkan, pun bukan karena kemurkaan Tuhan. Ini salahku dan salah semua sesamaku manusia, tapi ini tetap duniaku.
Alamat yang diberikan tidak begitu jelas. Nomer telepon yang bisa dihubungipun tidak nyambung-nyambung. Mulai putus asa, hari sudah sore, perut lapar, tas terasa semakin berat, tapi tujuan juga belum ketemu. Inginnya kembali ke menara gading (Kolese Kanisius). Kalau begitu, masakan, Yesus harus kembali ke surga (kontemplasi penjelmaan). Tidak, pokoknya jalan terus, percuma sudah perigrinasi.
Sekitar jam 5 sore, temanku kembali dari pencarian (secara bergantian -- untuk menghemat tenaga), akhirnya tempat tujuan ketemu. Proyek bangunan yang dimaksud, untuk sementara waktu ditinggal oleh tukang-tukangnya, karena banjir. Kami disambut oleh seorang bapak, yang ditugaskan sebagai penjaga kantor dan gudang proyek. Dia mempercayai kami, ketika kami menunjukkan nomer telepon Pimpro dengan benar. Dia adalah orang pertama yang menerima dan mempersilahkan kami istirahat di bedeng. Bahkan, malam itu juga, dia banyak cerita tentang dirinya, terlebih kelemahannya kalau menghadapi cewek (padahal itu privasinya). Bagaikan sang gembala yang memberikan tumpangan dan memberikan kehangatan bersama ternaknya di kandang Betlehem.
Beberapa anak masuk pula ke bedeng. Pakaiannya tidak karuan. Ada yang rambutnya gondrong dan berwarna merah (pirang). Nah, pasti ini anak-anak proyek! Sepintas perawakan mereka menakutkan, namun setelah berkenalan, ketahuanlah bahwa lingkungan kerja yang membuat mereka menjadi demikian.
Kedatangan kami sebenarnya kelihatan aneh. Kami dianggap orang KKN, ada juga yang menganggap teknisi lapangan kiriman pak Budi (Semarang). Melihat tas-tas besar yang kami bawa dan tampang bersih, mereka tak mudah percaya bahwa kami sungguh-sungguh mencari pekerjaan. Tanpa wasiat dari pak Budi, melamar pekerjaan di proyek ini pasti susah, karena beberapa bulan sebelumnya terjadi kasus pencurian yang melibatkan tukang-tukang yang baru saja kerja beberapa hari di tempat ini.
Aku ditempatkan menjadi kuli, membantu tukang batu. Aku mencoba mengingat-ingat pengalaman membangun kapel La Storta. Kalau tidak bisa, aku melihat cara kerja anak-anak proyek. Teman-teman kerjaku sangat beragam: tukang batu—keramik--kayu (mayoritas) berasal dari Purwodadi, tukang cat dari Cilacap, tukang listrik (dan pipa) dari Tegal, dan tukang lapangan Tenis dari Tulungagung. Masih ada beberapa yang lain (yang ditinjau dari tempat asalnya), yang dalam kategori minoritas: dari Lampung, Banten, dan Sunda.
Pada umumnya, latar belakang mereka adalah masyarakat desa. Selepas lulus SD, mereka memberanikan diri untuk merantau. Tampaknya bagi mereka, merantau adalah sesuatu yang menarik, menantang dan memberikan masa depan, ketimbang menjadi petani.
Umumnya, bekerja di proyek, terlebih dahulu harus menjadi kuli. Sehingga tidak mengherankan bahwa teman-teman kuliku adalah anak-anak yang baru lulus SD. Di antara kuli-kuli aku termasuk di-tua-kan: badanku besar, lulusan SMU, dan umurnya sudah tua. Aku cukup akrab dengan mereka. Ketika kami pindah, dari bedeng ke sebuah kamar kosong di proyek Mess itu, hampir setiap akan dan sesudah kerja, ada saja yang masuk dan mengajak ngobrol -- selalu ramai.
Berbeda dengan para tukang, interaksi mudah terjadi saat bekerja. Ada tukang yang enak diajak bicara, tapi ada juga yang ingin terus menunjukkan kesuperioritasannya. Bahkan aku pernah melihat seorang tukang hampir berkelahi dengan kulinya.
Sebenarnya, hubungan orang per orang, entah antara kuli dengan tukang, atau buruh dengan staf proyek (mandor) lebih melulu bisnis, kasarnya, demi kepentingan Gue. “Aku punya uang, kamu punya tenaga.” Di proyek, jarang ada yang namanya kekeluargaan (budaya yang ditawarkan pada kehidupan pertama mereka -- di desa). Wajar saja, kalau semuanyapun serba seadanya. Jaminan kesehatan hanya sebotol betadine. Kalau tidak dilihat staf proyek, kerjanya asal-asalan (Asal Bapak Senang), tanggungjawab kurang. Kalaupun ada yang berlaku sebaliknya, mungkin hanya segelintir orang. Yang jelas cara bertindak seperti itu populer di mana-mana, entah di proyek ini atau di proyek lain. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Selalu saja mereka mengeluhkan soal bayaran. Tapi, sebenarnya bukan itu.
Inilah kenyataannya. Dunia memang keras. Dunia telah menciptakan lingkungan keras bagi mereka. Bahkan itu mengkondisikan mereka sebagai pribadi-pribadi yang single fighter. Solidaritas yang ada hanya semu, sebatas teman judi (main kartu dan toto gelap) atau mabuk, bahkan teman ke pelacuran.
Tidak jauh berbeda dengan masyarakat di sekitar proyek. Di sana ada 2 komunitas besar. Perumahan Kelapa Gading terkenal dengan perumahan elite (menengah ke atas). Ini memang diperuntukkan bagi warga TNI-AL. Begitu besarnya perhatian pemerintah kepada pengaman negara. Sekecil-kecilnya pangkat mereka, kehidupannya tetap terjamin. Hanya saja, cara kerja mereka tergantung dari peluit, yang kadang-kadang melampaui suara hati. Di batas perumahan ini, terhampar rumah-rumah kecil yang memanfaatkan lahan di pinggiran Kali Sunter. Kontras sekali, sebab yang satu ini kehidupannya menengah ke bawah.Dari ketiga komunitas yang kujumpai ini, sebenarnya, inti persoalannya sama: Bagaimana bisa hidup merdeka sebagai manusia dan survive di dalamnya? Hanya saja bentuk dan cara yang dilakukan beraneka ragam. Ada yang menindas, ada yang manutan (ABS). Ada yang kerja keras, ada yang duduk santai. Ada yang besar, ada yang kecil. Dan seterusnya.
Read More...