Minggu, September 21, 2008

"Mampir Ngombe"

Hidup ini hanyalah mampir ngombe. Semuanya terjadi begitu saja, sekadar untuk mengambil minum melepas lelah. Bagiku sama saja, hidup adalah kesempatan untuk mengambil saripati-saripati dari setiap pengalaman yang dijumpai. Mampir ngombe berarti memaknai setiap langkah yang pernah dipijak.
***
Tepatnya empat tahun yang lalu. Dalam sebuah perjalanan ke kota Surabaya aku dan seorang temanku kehabisan uang di tengah perjalanan. Baru kali ini aku pergi jauh, bahkan keluar kota. Alasan pergi ke Surabaya pun hanya ikut temanku. “Daripada be-te mendingan kita liburan ke surabaya tempat kakekku”, katanya.

Kami memutuskan untuk naik kereta. Tetapi kami tidak langsung ke Surabaya, aku tergiur ajakan temanku untuk mampir dulu di Semarang. Di situ kita jalan-jalan dulu di Simpang Lima dan lihat-lihat kota Semarang. Tentu saja aku senang dan mau saja mengikuti permintaannya, karena memang keluargaku tidak pernah mengajakku keluar kota. Aku berasal dari keluarga sederhana, sejak lahir aku tinggal di Jakarta.
Sesudah seharian jalan-jalan, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini kami meneruskan dengan naik bis. Kami sudah menghitung-hitung biaya yang akan dikeluarkan. Ternyata uangnya hanya cukup untuk naik bis, dan jatah makan malam tidak ada sama sekali. Kami berharap agar kami bisa segera sampai Surabaya.
Di tengah perjalanan, sesuatu yang tidak kami harapkan terjadi. Bis yang kami kendarai mogok. Setelah diperiksa ternyata bis ini tidak bisa melanjutkan lagi perjalanan, karena mesti bongkar mesin. Padahal waktu itu tengah malam, dan berada agak di tengah hutan. Beberapa di antara penumpang memutuskan untuk tinggal di bis, menanti pagi dan melanjutkan perjalanan dengan bis lain yang lewat.
Tetapi kami berpikir lain. Kami mencoba tetap mencari bis lain malam itu. Kondektur mengembalikan sebagian uang transport, dan sambil menunggu bis yang lewat, kami berjalan kaki perlahan-lahan. Sesekali melewati kampung kecil. Baru menjelang pagi, kami memasuki sebuah desa yang cukup besar. Karena hampir sehari kami tidak makan, kami memutuskan untuk sarapan di sebuah warung. Kami tidak menyangka bahwa sisa uang setelah sarapan itu tinggal dua ribu saja. Kami bingung, dan dalam kebingungan itu kami memutuskan untuk jalan saja. Temanku mengatakan bahwa kota Surabaya sudah dekat. Mungkin sekitar 4 jam jalan kaki.
Setelah 4 jam lewat ternyata kami belum juga sampai kota Surabaya. Aku sudah merasa kecapaian begitupun temanku. Kami mencoba terus melanjutkan perjalanan dengan keyakinan bahwa tidak berapa lama lagi kami akan sampai.
Hari semakin sore, badanku sudah terasa lemah, begitupun temanku. Selama perjalanan tadi kami hanya melewati kota-kota kecil. Sempat kami bertanya ke seorang bapak mengenai seberapa jauh lagi kota Surabaya. Bapak itu mengatakan, “Tidak lama lagi, nak!”
Menurutku bapak itu menjawabnya kalau perhitungan itu dengan naik kendaraan. Sementara itu, aku benar-benar tidak kuat lagi untuk berjalan. Aku memohon pada temanku untuk berhenti sejenak melepas lelah. Bagiku ini kesempatan untuk mengumpulkan tenaga lagi. Ketika aku istirahat, mataku berkunang-kunang, terasa kecapaian. Beberapa menit kemudian, aku tidak tahan lagi untuk muntah. Temanku terkejut, dia berusaha menolong. Dia mau membelikan obat, tetapi itu tidak mungkin, karena sebelum minum obat, mestinya makan dulu, sedangkan uang tinggal dua ribu perak saja.
Dari seberang jalan, ada seorang ibu yang dari tadi memperhatikan kami. Dengan rasa ibanya, dia mendekati kami dan bertanya kepada kami. Ibu ini kelihatan sederhana sekali. Dia mau menolong kami, tetapi sepertinya tidak mungkin karena dia tampak tidak punya apa-apa. Dia berpikir sejenak dan memutuskan mengantar kami ke rumah terdekat untuk sekadar memberikan tempat yang agak layak buat istirahat kami. Sampai di rumah itu, kami diberi teh hangat. Tetapi bapak pemilik rumah itu merasa curiga dengan kami. Walaupun temanku sudah menjelaskan semua pengalaman kami seharian ini, dia tidak mengizinkan kami istirahat di situ. Bapak itu meminta ibu sederhana itu untuk mengantar kami ke ketua RT saja. Sesampai di rumah pak RT, dia berpikiran yang sama, dia lebih curiga, dan meminta kami untuk tinggal di balai desa saja. Ibu yang mengantarkan kami tadi membawa kami ke balai desa, dan setelah itu mohon pamit, karena rumahnya berada di desa tetangga. Dia sebenarnya adalah seorang buruh tani di sawah milih penduduk desa ini.
Sambil duduk beristirahat, kami mencoba berpikir apa yang bisa kami lakukan selanjutnya. Badanku sudah lemas sekali. Hari sudah mulai malam. Azan Mahgrib sudah berkumandang. Sekitar jam setengah 8 malam, seorang bapak mendekati kami. Dia bersorban putih dan memakai kopiah putih. Kami tahu bahwa bapak ini baru pulang dari Mushalla di seberang balai desa ini. Dia bertanya pada kami, mengapa kami bisa terdampar di tempat ini. Dengan rasa agak kesal kami mencoba menjawab pertanyaan bapak ini, karena kami yakin dia juga akan curiga dengan kami, dan setelahnya akan meninggalkan kami.
Tetapi, kenyataannya terjadi sebaliknya. Dia memutuskan untuk membawa kami ke rumahnya. Sesampai di rumahnya, kami disambut dengan baik oleh keluarganya. Kami disajikan makanan. Setelah itu ibunya membawakan obatan ala kadarnya buatku, biar aku cepat sembuh.
Bapak itu menanyakan banyak hal tentang kami, dari mana kami, sudah kelas berapa, bahkan apa agama kami. Dalam suatu kesempatan bapak itu menceritakan mengapa penduduk di sini begitu curiga dengan orang asing. Kampung ini sudah beberapa kali kecurian. Kali lalu ada yang kecurian ayam. Sebulan yang lalu ada yang sapinya hilang. Seminggu lalu ada yang kehilangan motor. Modusnya hampir sama, mereka menumpang menginap di rumah seorang penduduk.
Tiga bulan yang lalu, ada seorang pencuri tertangkap dan pencuri itu mati dibakar massa. Kejadian ini membuat trauma masyarakat, karena beberapa orang yang terlibat pembakaran ditahan oleh polisi. Waktu itu bapak ini sempat melarang massa untuk menghakimi sendiri pencuri itu. Tetapi perjuangannya sia-sia, dan kejadian itu terlanjur terjadi. Maka dari itu, sekarang penduduk curiga dengan orang asing. Lebih baik menolak daripada mendapatkan sial.
Sehabis cerita, bapak ini mempersilahkan kami istirahat. Malam itu, dia masih melanjutkan mengajar anaknya untuk membaca Al-Quran. Bapak ini ternyata seorang ustad. Sejak awal pertemuan kami, aku merasa takut sekali untuk berbicara dengannya, karena pakaian ibadatnya yang memberikan kesan negatif padaku.
Selama tinggal di Jakarta, aku antipati dengan orang Islam. Alasan yang utama karena kebanyakan anak tetanggaku mengejek aku karena aku anak Katolik. Aku juga trauma dengan membaca beberapa berita di mana di Ambon ada perang atas nama agama, lalu di beberapa tempat ada gereja dibakar, bahkan gerejakupun sekarang tidak mendapatkan izin pembangunan. Maka dari itu aku menutup diri dari mereka.
Tetapi yang kualami sekarang ini berbeda sama sekali. Seorang Ustad, yang notabene taat beribadah dan menjalankan ajaran Islam dengan baik, memperlakukan aku yang Katolik ini dengan cara berbeda, tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Hatiku terharu. Bahkan malam itu, mereka sekeluarga tidur di ruang tamu, menemani kami. Tampaknya mereka tak layak tidur di kamar mereka sendiri, yang lebih nyaman. Mereka mengagungkan tamunya, yang jelas-jelas ‘orang lain’ bagi mereka.
Keesokan harinya setelah sarapan, kami diikutkan pada truk tetangganya yang memang hendak pergi ke Surabaya mengambil barang dagangan. Aku bersyukur sekali atas pengalaman ini. Lewat pengalaman ini sikapku terhadap orang Islam berubah. Damai tidak diciptakan dari menutup diri. Ustad ini mengajarkanku untuk mau menerima siapa saja, tanpa memandang dari agama mana atau dari suku mana. Damai justru hadir lewat terbuka bagi siapapun. Urip mung mampir ngombe. Setelah 4 tahun itu berlalu, sekarang aku justru mempunyai banyak teman dari kalangaan Islam. Kami seringkali berdialog.

Bluntas, Januari 2006
Read More...

Rabu, September 17, 2008

Bangunlah dan Berjalanlah

Derita dan kesusahan manusia tiada pernah habis-habisnya. Setiap hari, entah lewat media massa maupun media elektronik, kita dengar dan lihat cuplikan peristiwa kecelakaan, bencana alam, peperangan, kerusuhan, penggusuran, dsb. Sontak —seringkali— berita itu membuat kita miris kasihan, tergerak hati untuk membantu. Tapi, biasanya rasa kasihan itu hanya bertahan beberapa menit saja. Obyek perhatian beralih pada berita yang lain. Dan berita kesusahan tadi hilang, seperti dibawa angin.
Mengapa ini bisa terjadi?

Ada banyak alasan yang membuatnya demikian. Alasan pertama karena orang itu belum pernah merasakannya sendiri dan tidak bersentuhan langsung dengan kejadian itu (jauh dari tempat kejadian). Alasan kedua, tuduhan bahwa bencana itu terjadi karena kesalahan mereka sendiri, misalnya tidak memelihara lingkungan dengan baik. Atau alasan ketiga, dukungan bagi musuh korban, misalnya memuji penggusuran karena itu berarti menertibkan lingkungan kota dari sesuatu hal yang mengurangi keindahan.
Cuplikan tentang kehidupan sehari-hari di atas dan reaksi di sekitar peristiwa itu memberikan gambaran singkat tentang sebuah paradigma moralitas yang lemah. Menurut Irish Murdoch “the enemy is the fat relentless ego.” Musuh kita adalah ego kita. Kekuatan ego membuat seseorang tertahan pada dirinya sendiri dan karena itu, tindakan yang semestinya dilakukan sama sekali tidak tersentuh.
Ego itu menunjuk pada kehendak otonom manusia. Tetapi kehendak otonom ini berhenti pada tuduhan saja dan tidak menyentuh pada realitas yang sebenarnya. Padahal kehendak otonom manusia itu selalu terarah pada ‘yang baik’. Setiap peristiwa, tidak hanya terbatas pada peristiwa kesusahan dan penderitaan, memiliki suatu daya tarik ‘yang baik’. Namun, daya tarik ini hanya bisa kita rasakan bila kita bangun (keluar dari diri kita) dan berjalan (melihat dengan mata kita) melihat realitas di sekitar kita, menolong atau memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan kita. Oleh karena itu, “Bangunlah dan Berjalanlah!” (Luk 5:23), lakukanlah hal-hal ‘yang baik’ untuk kita lakukan.

-published by Majalah Utusan, April 2006
Read More...

Senin, September 15, 2008

Dunia yang Keras: Inilah Duniaku


Kali ini mataku dibuka lebih lebar lagi. Serikat mengutusku untuk semakin mengenal duniaku (mengalami dan melatih diri). Probasi ini telah berkata lain dibandingkan 2 probasi luar yang terdahulu. Dunia memang terus berjalan bahkan berlari dan berpacu, tetapi aku tidak melihatnya dari sisi keindahan, ketenangan, kenyamannya, seperti yang kualami sebelumnya. Sekalipun Perigrinasi telah menunjukkan dari sisi lain, namun baru saat ini aku merasakan pengenalan yang lengkap akan duniaku. Aku tidak berani menyatakan bahwa aku sudah ahli tentang dunia ini, lebih daripada aku berani menyatakan bahwa inilah duniaku (di mana aku hidup di dalamnya), inilah realita di hadapanku.

Aku diutus ke tengah-tengah serigala, di antara kehidupan keras para buruh bangunan. Aku tidak ingin terilusi oleh istilah “Ibu Tiri tidak sekejam Ibukota”, tapi aku ingin sungguh mengalami bagian dunia lain yang dipandang dari sisi ketidakamanannya.
Selepas dari Kanisius, dengan bekal kehendak kuat, bersama teman perutusanku, kupanggul tas besar di pundakku. Aku tahu bahwa di terminal Senen banyak copetnya, tapi mau bagaimana? Ini duniaku dan aku mesti melewatinya agar aku sampai tujuanku.
Kutatap wajah anak kecil, yang mencoba bernyanyi dengan suara parau dan hanya mengandalkan bebunyian dari kumpulan tutup botol. Kasihan sekali! Aku hanya diam, tak memberikan uang sepeserpun, kecuali berpikir bahwa mereka sebenarnya hanya diperalat oleh sekelompok orang. Dan, aku merinding melihat eks-napi mabuk naik ke bis yang hanya untuk menodong (dengan cara halus). Aku tak bisa berlagak seperti Superboy, yang menyelamatkan orang-orang dan meninju mereka keluar bis, kecuali aku semakin yakin bahwa inilah duniaku.
Turun dari bis, di kanan-kiri jalan, masih ada banyak genangan air, sisa dari banjir kemarin. Bermaksud ingin menyeberangi sungai, ternyata jembatannya terendam. Setelah berputar cukup jauh, mencari jembatan yang lebih tinggi, masih juga harus menggulung celana ke atas, agar bisa melewatinya dan melintasi jalan-jalan di perumahan Kelapa Gading yang juga masih terendam air. Di mana-mana air, lalu semua ini salah siapa? Tuhan tidak bisa disalahkan, pun bukan karena kemurkaan Tuhan. Ini salahku dan salah semua sesamaku manusia, tapi ini tetap duniaku.
Alamat yang diberikan tidak begitu jelas. Nomer telepon yang bisa dihubungipun tidak nyambung-nyambung. Mulai putus asa, hari sudah sore, perut lapar, tas terasa semakin berat, tapi tujuan juga belum ketemu. Inginnya kembali ke menara gading (Kolese Kanisius). Kalau begitu, masakan, Yesus harus kembali ke surga (kontemplasi penjelmaan). Tidak, pokoknya jalan terus, percuma sudah perigrinasi.
Sekitar jam 5 sore, temanku kembali dari pencarian (secara bergantian -- untuk menghemat tenaga), akhirnya tempat tujuan ketemu. Proyek bangunan yang dimaksud, untuk sementara waktu ditinggal oleh tukang-tukangnya, karena banjir. Kami disambut oleh seorang bapak, yang ditugaskan sebagai penjaga kantor dan gudang proyek. Dia mempercayai kami, ketika kami menunjukkan nomer telepon Pimpro dengan benar. Dia adalah orang pertama yang menerima dan mempersilahkan kami istirahat di bedeng. Bahkan, malam itu juga, dia banyak cerita tentang dirinya, terlebih kelemahannya kalau menghadapi cewek (padahal itu privasinya). Bagaikan sang gembala yang memberikan tumpangan dan memberikan kehangatan bersama ternaknya di kandang Betlehem.
Beberapa anak masuk pula ke bedeng. Pakaiannya tidak karuan. Ada yang rambutnya gondrong dan berwarna merah (pirang). Nah, pasti ini anak-anak proyek! Sepintas perawakan mereka menakutkan, namun setelah berkenalan, ketahuanlah bahwa lingkungan kerja yang membuat mereka menjadi demikian.
Kedatangan kami sebenarnya kelihatan aneh. Kami dianggap orang KKN, ada juga yang menganggap teknisi lapangan kiriman pak Budi (Semarang). Melihat tas-tas besar yang kami bawa dan tampang bersih, mereka tak mudah percaya bahwa kami sungguh-sungguh mencari pekerjaan. Tanpa wasiat dari pak Budi, melamar pekerjaan di proyek ini pasti susah, karena beberapa bulan sebelumnya terjadi kasus pencurian yang melibatkan tukang-tukang yang baru saja kerja beberapa hari di tempat ini.
Aku ditempatkan menjadi kuli, membantu tukang batu. Aku mencoba mengingat-ingat pengalaman membangun kapel La Storta. Kalau tidak bisa, aku melihat cara kerja anak-anak proyek. Teman-teman kerjaku sangat beragam: tukang batu—keramik--kayu (mayoritas) berasal dari Purwodadi, tukang cat dari Cilacap, tukang listrik (dan pipa) dari Tegal, dan tukang lapangan Tenis dari Tulungagung. Masih ada beberapa yang lain (yang ditinjau dari tempat asalnya), yang dalam kategori minoritas: dari Lampung, Banten, dan Sunda.
Pada umumnya, latar belakang mereka adalah masyarakat desa. Selepas lulus SD, mereka memberanikan diri untuk merantau. Tampaknya bagi mereka, merantau adalah sesuatu yang menarik, menantang dan memberikan masa depan, ketimbang menjadi petani.
Umumnya, bekerja di proyek, terlebih dahulu harus menjadi kuli. Sehingga tidak mengherankan bahwa teman-teman kuliku adalah anak-anak yang baru lulus SD. Di antara kuli-kuli aku termasuk di-tua-kan: badanku besar, lulusan SMU, dan umurnya sudah tua. Aku cukup akrab dengan mereka. Ketika kami pindah, dari bedeng ke sebuah kamar kosong di proyek Mess itu, hampir setiap akan dan sesudah kerja, ada saja yang masuk dan mengajak ngobrol -- selalu ramai.
Berbeda dengan para tukang, interaksi mudah terjadi saat bekerja. Ada tukang yang enak diajak bicara, tapi ada juga yang ingin terus menunjukkan kesuperioritasannya. Bahkan aku pernah melihat seorang tukang hampir berkelahi dengan kulinya.
Sebenarnya, hubungan orang per orang, entah antara kuli dengan tukang, atau buruh dengan staf proyek (mandor) lebih melulu bisnis, kasarnya, demi kepentingan Gue. “Aku punya uang, kamu punya tenaga.” Di proyek, jarang ada yang namanya kekeluargaan (budaya yang ditawarkan pada kehidupan pertama mereka -- di desa). Wajar saja, kalau semuanyapun serba seadanya. Jaminan kesehatan hanya sebotol betadine. Kalau tidak dilihat staf proyek, kerjanya asal-asalan (Asal Bapak Senang), tanggungjawab kurang. Kalaupun ada yang berlaku sebaliknya, mungkin hanya segelintir orang. Yang jelas cara bertindak seperti itu populer di mana-mana, entah di proyek ini atau di proyek lain. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Selalu saja mereka mengeluhkan soal bayaran. Tapi, sebenarnya bukan itu.
Inilah kenyataannya. Dunia memang keras. Dunia telah menciptakan lingkungan keras bagi mereka. Bahkan itu mengkondisikan mereka sebagai pribadi-pribadi yang single fighter. Solidaritas yang ada hanya semu, sebatas teman judi (main kartu dan toto gelap) atau mabuk, bahkan teman ke pelacuran.
Tidak jauh berbeda dengan masyarakat di sekitar proyek. Di sana ada 2 komunitas besar. Perumahan Kelapa Gading terkenal dengan perumahan elite (menengah ke atas). Ini memang diperuntukkan bagi warga TNI-AL. Begitu besarnya perhatian pemerintah kepada pengaman negara. Sekecil-kecilnya pangkat mereka, kehidupannya tetap terjamin. Hanya saja, cara kerja mereka tergantung dari peluit, yang kadang-kadang melampaui suara hati. Di batas perumahan ini, terhampar rumah-rumah kecil yang memanfaatkan lahan di pinggiran Kali Sunter. Kontras sekali, sebab yang satu ini kehidupannya menengah ke bawah.Dari ketiga komunitas yang kujumpai ini, sebenarnya, inti persoalannya sama: Bagaimana bisa hidup merdeka sebagai manusia dan survive di dalamnya? Hanya saja bentuk dan cara yang dilakukan beraneka ragam. Ada yang menindas, ada yang manutan (ABS). Ada yang kerja keras, ada yang duduk santai. Ada yang besar, ada yang kecil. Dan seterusnya.
Read More...