Sabtu, Oktober 04, 2008

Pelangi di Matamu


Hal Menghakimi (Luk 6:39-42)
Syaloom! Yesus dalam bacaan Injil kali ini, menyampaikan perumpamaan yang terasa begitu dekat sekali dengan keseharian kita. Yakni perihal menghakimi. Mungkin tanpa disadari, bisa setiap hari, lewat obrolan biasa, kita dengan mudah mengkritik orang lain atau bisa juga yang hampir mirip dengan mengkritik: ngrasani orang lain.

Kita tahu: selumbar itu serpihan kecil dari sebuah benda, sedangkan balok adalah tiang kayu yang biasanya dipakai untuk menahan atap, jadi ukurannya lumayan besar. Bila perumpamaan ini ditafsirkan secara harafiah, akan terkesan lucu? Jangankan untuk melihat, mengangkat kepala pun akan sulit, sebab beban balok yang begitu berat sedang berada di dalam mata. Kita harus berjuang keras dulu untuk mengeluarkan balok dari mata, baru dapatlah melihat dengan jelas selumbar di mata orang lain. Haha…

Ternyata, perumpamaan ini punya maksud lain. Kedua orang yang digambarkan oleh Yesus ini berada dalam kondisi yang sama: masing-masing perlu membenahi dirinya. Pertama-tama untuk membenahi diri sendiri terlebih dahulu, baru kemudian dapat membenahi diri orang lain. Di sini juga tidak ada larangan untuk ”membenahi” atau mengkritik orang lain.

Tetapi kadang kita mungkin bisa bertindak sebaliknya, “Akh, biarlah, kan hanya selumbar kecil saja, pasti tidak akan berdampak besar.” Sekali-kali tidak, karena mata adalah bagian sensitif. Seperti orang kelilipan. Kemarin pas futsal saya kelilipan. Risih sampai malam hari. Yesus mengatakan bahwa selumbar pun perlu dikeluarkan. Jadi selumbar di mata orang lain harus tetap dikeluarkan, karena itu adalah tanggung jawab untuk menegor dan mengoreksi agar hidup kita bisa menjadi lebih baik. Bukan untuk menjatuhkan, namun untuk tidak membiarkan kesalahan itu terjadi berlarut-larut. Jika kita membiarkan, berarti kita ikut ambil bagian dalam proses kesalahan itu.

Dalam kitab suci kita bisa melihat bagaimana teguran-teguran yang sangat keras disampaikan untuk maksud baik:
• Samuel terhadap Saul karena ketidaktaatannya. “Kata Samuel kepada Saul: Perbuatanmu itu bodoh! Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu.”
• Yesus terhadap Petrus yang sok mau jadi pahlawan. “Enyahlah Iblis, Engkau suatu batu sandungan bagiKu, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Contoh-contoh teguran dalam kitab suci itu otentik, sesuai kenyataan dan berisi kebenaran yang disampaikan dengan kasih (truth in love). Kebenaran yang disampaikan mungkin menyakitkan, namun motivasi dan tujuannya dilandasi oleh kasih. Teguran tersebut juga dilandasi oleh pertimbangan yang matang, bukan asal ngomong. Juga bukan tindakan yang emosional, tapi tindakan yang matang dan dalam kasih.
Setelah kritik dan teguran tersebut disampaikan, kita melihat bahwa mereka tetap mengasihi orang yang mereka kritik tersebut. Samuel tidak lantas menjadi musuh Saul. Yesus tetap mengasihi Petrus, bahkan memperbaiki hidupnya.

Ada tiga hal yang perlu kita perhatikan sehubungan dengan kritik/teguran dan mengasihi:
1. Uncritical lover (mengasihi tanpa mengkritik).
Orang yang mengasihi tanpa memberikan kritik biasanya adalah orang yang taat secara mutlak kepada orang lain (pemimpinnya) tanpa berpikir atau bertanya. Ia hanya menyampaikan hal-hal yang enak didengar saja! Ini bisa terjadi karena ia sangat mengagumi orang tersebut dan percaya bahwa segala sesuatu yang dikatakan atau dilakukan orang tersebut pasti benar (pakewuh), atau karena sikap yang masa bodoh, takut atau tidak mau terlibat dalam masalah.
2. Unloving critics (mengkritik tanpa mengasihi).
Ini adalah orang yang hobinya mencari kesalahan orang lain. Orang ini selalu melancarkan kritik-kritik yang pedas dan tajam, dengan tujuan untuk mendiskreditkan orang lain, mengambil posisi sebagai oposisi/penentang. Setiap keputusan, pandangan, tindakan orang lain pasti ditentang, hanya karena ia ingin menentangnya sekalipun tanpa alasan yang tepat.
3. Critical lover (mengasihi dengan mengkritik).
Mengasihi orang dengan memberikan kritik dan teguran yang positif, konstruktif, meskipun ada resiko disalahmengerti oleh orang yang dikritik.

Kita memang tidak pernah 100% benar dan tidak luput dari kesalahan, namun kita mempunyai tanggung jawab moral untuk menegor, mengkritik hal-hal yang tidak benar! Jangan kita menunggu sampai kita sempurna dulu di seluruh kehidupan kita, baru kemudian mengoreksi orang lain. Jangan-jangan sampai mati pun kita tidak pernah mengoreksi orang lain. Menegor adalah bukti kasih, dengan begitu kita bisa menghindarkan orang lain tergelincir. Amin.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Nice job ter....

Indeed, thats right, sering bgt sich org kebanyakn kasi kritik dari blkg, so org yg hrs diberi opinion itu jstru ga tau. Tp sbnrnya kritik itu masalah kebiasaan jg...asian culture, byk org yg tidak suka criticism argument didpn byk org. Honestly kalo kita bisa melihat sgala ssuatu dari +side dulu, kasi kritik ak sllu lebih baek. I agree with ur conclusion dech, jgn takut kasi kritik cz kita shouldnt close our eyes sama kekurangan org laen yg sharusnya bisa diperbaiki. N yg harus di lakukn dulu, tu ganti cara pandang kita terhadap tingkah laku or hasil kerja org lain spy kita bisa liat dari +side and kritik yg kita kasi bukan ngrasani, or judgement or nile jelek, tp attention.

Good job... :)
kz...(melb20/10/08)